
AI Bikin Harga HP Melambung, Memori Jadi Biang Keroknya
- Harga HP 2026 makin mahal akibat lonjakan harga chip memori yang dipicu ledakan AI. Simak dampaknya bagi smartphone dan konsumen Indonesia.
Banjar Update
JAKARTA - Harga ponsel atau smartphone diperkirakan semakin tinggi pada 2026. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi, nilai tukar, maupun kebijakan harga dari produsen, tetapi juga oleh masalah pasokan di industri teknologi, khususnya kelangkaan chip memori yang dipicu meningkatnya kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Saat ini, perusahaan teknologi dunia tengah berlomba membangun pusat data untuk mendukung pengembangan dan pengoperasian AI. Pembangunan infrastruktur tersebut membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah besar, mulai dari High Bandwidth Memory (HBM) yang digunakan pada akselerator AI hingga DRAM dan NAND untuk kebutuhan server.
Lonjakan permintaan tersebut mendorong produsen chip memori mengalihkan lebih banyak kapasitas produksinya ke produk yang ditujukan untuk server dan teknologi AI. Produk-produk tersebut dinilai menawarkan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan memori yang digunakan pada perangkat konsumen seperti smartphone.
BACA JUGA: Bocoran Spek dan Harga iPhone 18 yang Meluncur September 2026, Tertarik Beli?
Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen seperti smartphone ikut tertekan. TrendForce bahkan memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional pada kuartal II-2026 melonjak 58%-63% secara kuartalan, sementara NAND Flash diproyeksikan naik 70%-75%.
Dampaknya mulai terasa langsung pada harga dan ketersediaan smartphone. Data Counterpoint Research menunjukkan harga memori smartphone pada kuartal II-2026 meningkat lebih dari 80% dibandingkan kuartal sebelumnya. Lonjakan tersebut kemudian mengubah struktur biaya produksi smartphone secara signifikan.
Baca juga : Rugi MDIA Turun 86 Persen, Simak Strategi dan Prospek ANTV
Kenapa Harga HP Naik?
Secara sederhana, kenaikan harga HP terjadi karena biaya membuat smartphone meningkat. Smartphone membutuhkan berbagai komponen seperti prosesor atau SoC, layar, kamera, baterai, modem, DRAM, serta penyimpanan NAND. Ketika salah satu komponen utama mengalami kenaikan harga yang besar, biaya produksi keseluruhan ikut terdorong.
Dalam kondisi saat ini, komponen yang menjadi sumber tekanan terbesar adalah memori.
DRAM digunakan untuk menyimpan data sementara ketika aplikasi berjalan, sedangkan NAND digunakan sebagai media penyimpanan internal. Keduanya merupakan komponen penting dalam smartphone.
Masalahnya, permintaan terhadap memori meningkat bukan hanya dari produsen smartphone, tetapi juga dari perusahaan yang membangun infrastruktur AI.
Perusahaan cloud dan teknologi membutuhkan server dengan kapasitas memori yang jauh lebih besar dibandingkan perangkat konsumen. Produsen memori kemudian mengarahkan sebagian kapasitas produksinya ke pasar server dan AI yang menawarkan margin lebih tinggi.
TrendForce mencatat produsen memori terus mengalihkan kapasitas menuju aplikasi HBM dan server, sementara pasokan untuk segmen konsumen semakin ketat.
Baca juga : IHSG Ngebut 1,23 Persen, BYAN dan JARR Perkasa di Pembukaan
AI "Memakan" Pasokan Memori
Ledakan AI menjadi salah satu perubahan terbesar dalam industri semikonduktor. Pembangunan pusat data AI membutuhkan akselerator dan server dalam jumlah besar. Selain GPU atau chip komputasi, pusat data tersebut membutuhkan memori berkecepatan tinggi dan kapasitas besar.
HBM menjadi salah satu komponen penting dalam sistem AI karena memungkinkan prosesor AI mengakses data dalam bandwidth yang sangat tinggi.
Namun, efeknya tidak berhenti pada HBM. Ketika produsen semikonduktor mengalokasikan kapasitas produksi untuk produk server dan AI, pasokan untuk DRAM konvensional serta NAND yang digunakan perangkat konsumen ikut terpengaruh.
Dengan kata lain, persaingan AI tidak hanya berdampak pada harga GPU atau server, tetapi mulai masuk ke harga HP yang digunakan konsumen sehari-hari.
Harga Memori Smartphone Melonjak 80%
Counterpoint Research mencatat harga memori yang digunakan smartphone pada kuartal II-2026 meningkat lebih dari 80% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Lonjakan tersebut kemudian membuat struktur Bill of Materials (BOM) smartphone berubah. BOM merupakan total biaya berbagai komponen yang dibutuhkan untuk membuat sebuah perangkat, sebelum memperhitungkan biaya seperti pemasaran, distribusi, tenaga kerja, dan margin keuntungan.
Berdasarkan analisis Counterpoint Research, kenaikan biaya BOM pada 2026 sangat signifikan dibandingkan perangkat dengan spesifikasi sekelas pada 2025. Berikut dampaknya berdasarkan segmen smartphone,
- Smartphone low-end: biaya komponen naik sekitar 70% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Smartphone mid-range: biaya komponen naik sekitar 52%.
- Smartphone premium/flagship: biaya komponen naik hampir 50%.
Kenaikan terbesar terjadi pada segmen murah karena margin produsen di kelas tersebut memang relatif tipis. Sedikit kenaikan biaya komponen dapat langsung menggerus keuntungan.
Baca juga : BRI Perkuat Ekosistem Investasi Batam dengan Solusi Terintegrasi
DRAM Kini Jadi Komponen Termahal di HP Flagship
Salah satu perubahan paling menarik adalah posisi DRAM dalam struktur biaya smartphone. Pada perangkat flagship, DRAM kini telah melampaui SoC sebagai komponen tunggal paling mahal dalam struktur biaya perangkat, menurut analisis Counterpoint Research.
Hal ini menunjukkan seberapa besar dampak krisis memori terhadap industri smartphone.
Selama bertahun-tahun, konsumen terbiasa mendapatkan RAM dan penyimpanan yang semakin besar dengan harga yang relatif terjangkau. Namun, kondisi tersebut berubah ketika kebutuhan memori dari AI dan pusat data meningkat.
Untuk smartphone kelas menengah, biaya memori bahkan diperkirakan mencapai sekitar 40% dari total BOM pada kuartal II-2026.
Artinya, kenaikan harga RAM dan penyimpanan sekarang memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap harga jual smartphone.
HP Murah Paling Terancam
Krisis memori paling berat dirasakan oleh smartphone murah. Pada perangkat dengan harga rendah, produsen hanya memiliki sedikit ruang untuk menyerap kenaikan biaya. Jika harga komponen naik, terdapat tiga pilihan utama: menaikkan harga, mengurangi spesifikasi, atau menerima margin keuntungan yang lebih kecil.
Omdia memperkirakan biaya memori bahkan telah mencapai hampir 60% dari BOM smartphone di bawah US$400 pada kuartal I-2026.
Untuk perangkat ultra-murah, tekanannya lebih ekstrem. South China Morning Post yang mengutip Omdia melaporkan biaya memori untuk perangkat di bawah US$100 diperkirakan melonjak sangat tajam pada kuartal III-2026, sehingga produksi smartphone di kelas tersebut menjadi semakin sulit menguntungkan.
Kondisi ini berpotensi mengubah pasar smartphone. Produsen bisa saja mengurangi jumlah model entry-level dan lebih fokus pada kelas menengah yang memberikan margin lebih besar.
Akibatnya, HP murah semakin sulit ditemukan, sementara konsumen mungkin harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendapatkan spesifikasi yang sebelumnya tersedia di kelas harga lebih rendah.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: JPFA dan ISAT Melesat, KLBF Loyo
Harga HP di Indonesia Ikut Naik
Indonesia juga tidak terlepas dari tekanan tersebut. Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone di Indonesia pada kuartal I-2026 turun 9% secara tahunan. Penurunan tersebut terjadi ketika harga smartphone meningkat dan konsumen menunda pembelian perangkat baru.
Pada periode yang sama, harga jual rata-rata smartphone atau Average Selling Price (ASP) di Indonesia dilaporkan meningkat sekitar 12% secara tahunan. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya biaya komponen, termasuk DRAM.
Artinya, konsumen Indonesia menghadapi dua tekanan sekaligus. Harga HP naik, sementara sebagian konsumen justru menunda upgrade.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa pertumbuhan volume penjualan smartphone dapat melemah meskipun nilai pasar belum tentu turun sebesar penurunan unit.
Besarnya tekanan harga memori bahkan membuat CEO Apple Tim Cook memberikan peringatan terbuka mengenai kondisi industri.
Cook menggambarkan kenaikan harga memori sebagai "hundred-year flood" atau banjir seratus tahun sekali. Ia mengatakan belum pernah melihat kondisi serupa selama lebih dari 40 tahun berkarier di industri teknologi.
Apple sebelumnya berusaha menyerap kenaikan biaya tersebut agar tidak langsung membebani konsumen. Namun, Cook kemudian mengatakan kenaikan harga menjadi sulit dihindari karena biaya memori dan penyimpanan terus meningkat.
Apple bahkan telah menaikkan harga sejumlah produk seperti Mac dan iPad untuk mengimbangi kenaikan biaya komponen.
Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan memori bukan hanya masalah produsen HP murah, tetapi telah menjadi persoalan industri elektronik secara keseluruhan.
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa produsen chip tidak langsung meningkatkan produksi untuk mengatasi kelangkaan?
Masalahnya, pembangunan fasilitas produksi semikonduktor membutuhkan investasi sangat besar dan waktu yang panjang.
Selain itu, produsen memori harus menentukan jenis produk yang akan diprioritaskan. Ketika permintaan dari pusat data AI sangat kuat dan pelanggan bersedia melakukan kontrak jangka panjang, produsen memiliki insentif besar untuk mengalokasikan kapasitas ke segmen tersebut.
TrendForce mencatat penyedia memori memang terus mengalihkan kapasitas menuju aplikasi server dan AI karena permintaan dari pusat data meningkat.
Artinya, kelangkaan memori untuk smartphone bukan hanya persoalan produksi yang kurang, tetapi juga persaingan dalam memperebutkan kapasitas produksi yang terbatas.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 20 Aug 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 20 Agt 2026
