
Data Center Berdiri di Dekat Rumah? Ini 5 Dampak yang Perlu Diwaspadai
- Di balik kecanggihan teknologi kecerdasan buatan, inilah beberapa dampak adanya pembangunan data center AI terhadap kehidupan warga sekitarnya.
Banjar Update
JAKARTA — Saat ini, pembangunan data center kian meningkat seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan layanan digital.
Seperti yang dilansir dari BGR, saat ini sudah ada 831 lokasi pembangunan data center yang sedang beroperasi atau dalam tahapan konstruksi.
Lonjakan pembangunan data center ini bisa terjadi karena semakin tingginya permintaan terhadap layanan berbasis AI, seiring banyak negara dan perusahaan teknologi yang menjadikan AI sebagai fokus pengembangan di masa depan.
Namun, sayangnya ketika kita menggunakan layanan AI seperti ChatGPT, sebagian besar orang mungkin tidak menyadari atau bahkan tidak memikirkan bagaimana proses munculnya berbagai informasi tersebut di balik layar ponsel atau perangkat mereka.
Mereka mungkin juga tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan data center yang dialami oleh warga di sekitarnya.
Maka dari itu, penting bagi kamu untuk memahami dampak yang paling sering dirasakan warga sekitar data center.
BACA JUGA: Tenang, Ini 5 Bidang Pekerjaan yang Tidak Bisa Digantikan AI
Masalah yang Kerap Dialami Warga di Sekitar Data Center
Potensi Naiknya Tarif Listrik

Hyperscale data center bisa menampung ribuan server yang dilengkapi dengan prosesor, graphic card, dan memori dengan performa tinggi. Pasokan listrik sangat dibutuhkan tidak hanya untuk menjalankan server tapi juga untuk menjalankan sistem pendingin berskala besar, sistem keamanan, dan sebagainya.
Dilansir dari BGR, satu hyperscale data center rata-rata membutuhkan daya sekitar 50 megawatt (MW) dan dapat mengonsumsi hingga 1,2 gigawatt-jam (GWh) listrik setiap hari. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 42.000 rumah, atau setara dengan konsumsi listrik dua hingga tiga kota kecil.
Lonjakan permintaan pasokan listrik ini tentu membuat jaringan listrik yang sudah ada jadi tertekan. Makanya, dalam banyak kasus, perusahaan listrik mau tidak mau perlu meningkatkan kapasitas infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Namun, hal itu bisa berdampak pada biaya investasi peningkatan kapasitas infrastruktur yang akhirnya dibebankan kepada pelanggan lewat kenaikan tarif listrik.
BACA JUGA: 5 Cara Mencegah AI Ambil Alih Pekerjaan Anda, Jangan Takut!
Menurunkan Kualitas dan Ketersediaan Air

Data center butuh pasokan air dalam jumlah yang sangat besar. Air sangat dibutuhkan untuk mendinginkan server agar server tidak terjadi kerusakan akibat panas.
Menurut Environmental and Energy Study Institute (EESI), hyperscale data center berukuran sedang dapat menggunakan sedikitnya 1 juta galon air setiap hari. Jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan harian lebih dari 3.300 rumah tangga.
BACA JUGA: 7 Pekerjaan yang Paling Berisiko Hilang pada 2030, Waspada!
Memperburuk Polusi Udara dan Meningkatkan Kebisingan

Banyak fasilitas data center yang mengandalkan generator berbahan bakar diesel atau gas sebagai sumber listrik cadangan, untuk mengantisipasi jika suatu saat terjadi pemadaman.
Penggunaan generator tersebut meningkatkan emisi polutan ke udara, terutama partikel halus yang dapat memperburuk gangguan pernapasan.
Selain itu, data center menggunakan berbagai sistem pendingin berukuran besar, seperti pendingin udara industri, kipas raksasa, dan chiller.
Alat-alat tersebut menimbulkan suara bising, baik yang dapat didengar maupun suara berfrekuensi rendah yang sering kali tidak disadari.
BACA JUGA: Mengungkap Risiko Pengangguran Massal Akibat Penggunaan AI
Hanya Menciptakan Sedikit Lapangan Kerja yang Permanen

Berbeda dengan sektor manufaktur, data center sebetulnya tidak menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar secara berkelanjutan.
Pada tahap pembangunan data center, memang dibutuhkan tenaga kerja seperti teknisi, kontraktor bangunan, dan spesialis sistem pendingin (HVAC). Namun, setelah data center mulai beroperasi, kebutuhan tenaga kerja turun drastis.
Berdasarkan data Staffing Industry Analysts, pembangunan data center baru milik PwC pada 2023 menciptakan sekitar 1.000 hingga 10.000 lapangan kerja selama proses konstruksi.
Akan tetapi, setelah pembangunan selesai dan data center bisa beroperasi, jumlah pekerjanya hanya sekitar 50 hingga 300 orang.
Sebagian besar pekerjaan yang tersedia juga membutuhkan keahlian khusus di bidang komputer, jaringan, dan pengelolaan server.
Keterampilan seperti ini umumnya belum banyak dimiliki masyarakat di kota-kota kecil atau kawasan pedesaan, yang justru sering menjadi lokasi pembangunan data center.
Menurunkan Nilai Properti Wilayah Setempat

Keberadaan banyak data center dinilai dapat mengurangi daya tarik suatu kawasan sebagai tempat tinggal.
Hal ini karena umumnya, berkaitan dengan beberapa dampak yang sudah disebutkan sebelumnya, seperti semakin berisik, berkurangnya cadangan air yang berkualitas, kenaikan tagihan listrik, dan masih banyak lagi.
Itu tadi beberapa dampak adanya pembangunan data center AI terhadap kehidupan warga sekitarnya.
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 03 Agt 2026
