Aktivitas para pekerja sebuah pabrik furnitur di kawasan Batu Ceper Kota Tangerang. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
Ekonomi dan Bisnis

Ekspor Tembus USD 3,5 Miliar, Kemenperin Pacu Kinerja Industri Furnitur dan Kerajinan

  • STARBANJAR - Ekspor produk furniture dan kerajinan Indonesia pada tahun 2022 mencapai mencapai USD 3,5 miliar atau setara Rp 52,48 triliun.
Ekonomi dan Bisnis
Ahmad Husaini

Ahmad Husaini

Author

STARBANJAR - Ekspor produk furniture dan kerajinan Indonesia pada tahun 2022 mencapai mencapai USD 3,5 miliar atau setara Rp 52,48 triliun.

Adapun negara tujuan utamanya antara lain Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Jerman, dan Inggris. Proporsi nilai ekspor yang cukup signifikan dari industri ini menunjukan bahwa karakteristik sektornya berorientasi ekspor.

“Kami berharap para pelaku IKM furnitur dan kerajinan dapat terus mengikuti tren pasar global serta aktif melakukan inovasi, dan yang penting juga tetap menjaga kelestarian lingkungan dalam rantai pasoknya. Kami optimistis Indonesia akan bisa menjadi trendsetter dalam pengembangan eco lifestyle furniture,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka IKMA) Reni Yanita di Jakarta, Senin (13/3/2023).

Menurut Reni, iklim tropis di Indonesia menjadi potensi besar bagi pengembangan industri furniture dan kerajinan. 

“Karena kita mempunyai kekuatan comparative advantage berupa melimpahnya bahan baku kayu beraneka jenis, kemudian bahan baku rotan dan bamboo,” sebutnya.

Melalui kekuatan dari ketersediaan bahan baku serta didukung dengan desain yang unik dan menarik, pemerintah optimistis produk furnitur Indonesia memiliki nilai tambah yang tinggi dan mampu berdaya saing global. 

“Selain itu juga perlu didukung dengan konsep berwawasan lingkungan,” imbuhnya.

Selain fasilitasi pada pameran nasional maupun internasional,Kemenperin juga menjalankan beragam instrumen kebijakan dalam rangka mengembangkan industri furniture dan kerajinan,antara lain fasilitasi pusat logistik bahan baku, program revitalisasi mesin dan peralatan, serta fasilitasi politeknik furniture.

“Selain itu kami juga menjalankan program pengembangan desain furniture, insentif tax holiday, tax allowance, serta super deduction tax untuk R&D dan vokasi. Ada pula penerapan SNI dan SKKNI serta penerbitan sertifikat TKDN,” tutup Reni.