
IHSG Merosot? Simak Langkah Bijak Menghadapinya
- Fluktuasi ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat sering mendorong keputusan emosional yang justru berpotensi memperbesar kerugian.
Banjar Update
JAKARTA - Penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu, 28 Januari 2026, sering kali membuat investor pemula diliputi rasa panik.
Pergerakan pasar yang sangat fluktuatif dalam waktu singkat kerap memicu respons emosional, seperti menjual saham secara terburu-buru, yang justru dapat memperbesar potensi kerugian.
Sejumlah analis menekankan bahwa fase market crash tidak semata-mata soal bertahan, melainkan juga tentang kemampuan investor mengelola risiko dan memanfaatkan peluang secara rasional.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan investor pemula kala terjadi kejatuhan IHSG.
BACA JUGA: IHSG Turun? Ini 6 Langkah yang Bisa Dilakukan
Langkah-langkah yang Harus Anda Lakukan Saat IHSG Crash

1. Menjaga Emosi dan Kembali ke Tujuan Investasi
Langkah pertama yang perlu dilakukan investor pemula saat IHSG tertekan adalah menjaga ketenangan dan menghindari panic selling.
Investor disarankan meninjau kembali tujuan investasi awal, apakah berorientasi jangka pendek atau jangka panjang. Dengan memahami horizon investasi, keputusan yang diambil akan lebih terukur dan tidak semata-mata didorong oleh pergerakan harga harian.
Baca juga : IHSG Ambrol, Target 10.000 Jadi Isapan Jempol?
2. Fokus pada Fundamental Emiten, Bukan Harga Sesaat
Dalam kondisi pasar melemah, perhatian investor sebaiknya dialihkan dari fluktuasi harian ke kondisi fundamental perusahaan.
Menilai kinerja keuangan, prospek bisnis, dan kualitas manajemen emiten menjadi krusial. Saham dengan fundamental kuat cenderung lebih mampu bertahan dan pulih ketika sentimen pasar membaik.
3. Mengelola Portofolio dan Risiko Secara Disiplin
Investor pemula juga perlu menata ulang portofolio dengan memisahkan saham berkualitas dari saham spekulatif. Diversifikasi menjadi kunci untuk mengurangi risiko kerugian terpusat, sementara penggunaan dana dingin wajib dipastikan agar kebutuhan finansial jangka pendek tidak terganggu.
Aktivitas trading berlebihan di tengah volatilitas tinggi justru berisiko memperburuk hasil investasi.
4. Memahami Penyebab Crash dan Dinamika Pasar
Memahami penyebab IHSG melemah, baik akibat faktor global, kebijakan moneter, maupun sentimen domestik, penting untuk membangun perspektif yang lebih luas.
Dengan memahami konteks penurunan, investor pemula dapat menilai apakah tekanan pasar bersifat sementara atau mencerminkan perubahan struktural yang lebih serius.
Baca juga : IHSG Ambrol, Target 10.000 Jadi Isapan Jempol?
5. Memanfaatkan Harga Murah dengan Perhitungan Matang
Kondisi pasar yang tertekan kerap menghadirkan peluang membeli saham berkualitas pada valuasi yang lebih rendah. Namun, pembelian bertahap atau average down sebaiknya dilakukan secara rasional dan selektif, dengan mempertimbangkan rasio valuasi serta kekuatan arus kas perusahaan, bukan sekadar karena harga terlihat murah.
6. Menjaga Disiplin Strategi dan Batas Risiko
Di tengah volatilitas, investor pemula perlu menetapkan batas risiko yang jelas, termasuk skenario cut loss apabila terjadi perubahan fundamental emiten.
Menghindari rumor, rekomendasi tanpa dasar kuat, serta ekspektasi keuntungan jangka pendek menjadi langkah penting untuk menjaga konsistensi strategi investasi.
7. Meningkatkan Literasi dan Ketahanan Mental Investor
Fase IHSG crash seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum pembelajaran. Membaca laporan keuangan, memahami kebijakan pemerintah dan bank sentral, serta mencatat setiap keputusan investasi akan membantu meningkatkan literasi keuangan. Para analis menilai, ketahanan mental dan disiplin jangka panjang merupakan kunci utama keberhasilan investasi.
Crash Bukan Akhir, Melainkan Bagian dari Siklus Pasar
Sejarah menunjukkan bahwa pasar saham selalu bergerak dalam siklus. Penurunan tajam bukanlah akhir dari investasi, melainkan bagian dari dinamika pasar.
Bagi investor pemula, memahami prinsip dasar ini dapat membantu menghadapi tekanan pasar dengan lebih tenang sekaligus membangun fondasi investasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 28 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 29 Jan 2026
