Bulog
Ekonomi dan Bisnis

Impor Beras, Bulog Tak Maksimal Lindungi Petani

  • STARBANJAR - Rencana pemerintah membuka keran impor beras sebanyak satu juta ton mendapatkan kritikan tajam.

Ekonomi dan Bisnis
Redaksi Starbanjar

Redaksi Starbanjar

Author

STARBANJAR - Rencana pemerintah membuka keran impor beras sebanyak satu juta ton mendapatkan kritikan tajam. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi berdalih keputusan latar belakang kebijakan impor beras sebanyak 1 juta ton pada tahun ini, disebabkan stok beras cadangan Bulog yang rendah.

Lutfi mengatakan, Bulog memiliki penugasan untuk menjaga stok cadangan beras atau iron stock sebesar 1 juta-1,5 juta ton setiap tahunnya. Besaran angka stok itu merupakan prinsip dasar pemerintah sejak lama. Cadangan beras ini diperlukan untuk kebutuhan mendesak seperti bansos ataupun operasi pasar guna stabilisasi harga. Adapun pengadaan beras oleh Bulog itu bisa berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

"Jadi kalau memang ternyata penyerapan Bulog bagus, kita tidak perlu impor. Ada tahun-tahun kita tidak perlu impor, seperti saat 2019 dan 2020," ujar Lutfi dilansir dari Kompas, Sabtu (20/3/2021).

Sementara itu, koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan pergerakan harga beras ini tak semata-mata disebabkan oleh wacana impor. Panen raya yang bertepatan dengan cuaca dengan curah hujan tinggi dia sebut mengakibatkan kadar air dalam gabah cenderung tinggi sehingga kualitasnya cenderung rendah.

Harga beras medium dan premium yang bergerak turun disebut mulai membuat kalangan pedagang dan usaha penggilingan mengurangi pembelian dari petani. Di tengah harga yang makin turun di tingkat petani maupun pedagang, Said juga menyebutkan bahwa intervensi penyerapan oleh Perum Bulog belum bisa berdampak banyak.

"Perum Bulog terikat oleh ketentuan dalam peraturan pemerintah dalam menyerap gabah dan beras," ujar Said dalam keterangan tertulisnya.

Jaminan harga sejatinya bisa diurai jika Perum Bulog diberi keleluasan untuk membeli beras di bawah kualitas yang ditentukan. Dalam situasi ini, dia berpendapat pembelian Bulog harusnya bisa dioptimalisasi. Selain itu, hal ini bisa ditangkal jika Bulog bisa menyerap dalam bentuk gabah, bukan beras seperti saat ini.