PLTS
Ekonomi dan Bisnis

ini Ikhtiar Pemerintah Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

  • STARBANJAR - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penurunan emisi dari transportasi, kelistrikan, dan industri pada tahun 2030 mendatang sebesar 314 juta ton karbondioksida (C02).

Ekonomi dan Bisnis
Redaksi Starbanjar

Redaksi Starbanjar

Author

STARBANJAR - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penurunan emisi dari transportasi, kelistrikan, dan industri pada tahun 2030 mendatang sebesar 314 juta ton karbondioksida (C02).

Pemerintah pun melakukan sejumlah langkah untuk mencapai target tersebut, diantaranya transformasi ke penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan selain penggunaan EBT, pemerintah juga menjalankan konservasi energi, pembangkit energi bersih, fuel switching, serta reklamasi pasca tambang.

“Kami menjalankan kebijakan energi nasional (KEN), berfokus pada transisi pengurangan energi fosil dan diganti dengan energi ramah lingkungan,” ujar Arifin Tasrif, dilansir dari trenasia, Rabu (24/3/2021).

Untuk menuju pengembangan EBT, lanjutnya, salah satu upaya pemerintah yakni dengan mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Menurutnya, pembangkit ini telah terbukti mampu menekan biaya 1,3 kali lebih murah dibandingkan dengan energi lainnya. Di samping itu, produksinya juga berbentuk modul-modul sehingga dinilai mudah dalam pemasangannya.

Pemerintah sendiri berencana membangun PLTS mulai 2021-2030 skala besar dengan kapasitas mencapai 5,432 Mega Watt (MW). Proyek ini pun ditargetkan dapat menurunkan emisi hingga 7,96 juta ton karbondioksida

Arifin menambahkan, saat ini beberapa proyek dijalankan. Salah satunya kick off PLTS terapung Waduk Cirata sebesar 145 MWp, yang ditargetkan selesai pada 2022.

Selanjutnya, PLTS atap sebesar 2,145 Giga Watt (GW) pada bangunan dan fasilitas milik BUMN, industri dan bisnis, rumah tangga, konsumen PLN, kelompok sosial, serta gedung pemerintah.

Kemudian, dalam rangka mengurangi penggunaan batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), saat ini sedang dikembangkan teknologi co-firing biomassa.

Lalu untuk mengurangi timbunan sampah, pihaknya turut mengembangkan Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu bahan bakar yang berasal dari limbah rumah tangga, industri, pertanian dan kegiatan lainnya.