Nasional

Jejak Kartini di Jalanan: Kisah Kurir Perempuan Lion Parcel Menembus Batas

  • STARBANJAR - Pagi baru saja dimulai ketika Putri (24) bersiap memulai harinya di salah satu hub Lion Parcel. Dengan puluhan paket di dalam tas, ia bersiap menem
Nasional
Redaksi Starbanjar

Redaksi Starbanjar

Author

STARBANJAR - Pagi baru saja dimulai ketika Putri (24) bersiap memulai harinya di salah satu hub Lion Parcel.

 Dengan puluhan paket di dalam tas, ia bersiap menempuh perjalanan panjang.

Menyusuri jalan hingga gang sempit, menghadapi cuaca tak menentu, dan mengetuk satu per satu pintu pelanggan.

Kisah Putri menjadi potret nyata semangat emansipasi yang terus hidup, terutama di momen Hari Kartini.

Cerita di Balik TantanganMenjadi kurir perempuan bukan tanpa tantangan. Putri kerap menghadapi beragam respons pelanggan—mulai dari apresiasi, rasa terkejut, hingga pertanyaan yang meragukan.

“Kadang pelanggan kaget kok kurirnya perempuan. Padahal perempuan juga bisa jadi kurir,” katanya.

Tak jarang, ia juga menerima perhatian yang kurang nyaman, seperti godaan atau pertanyaan personal.

Pengalaman serupa dirasakan Nuraini (29). Ia beberapa kali menghadapi perlakuan kurang menyenangkan dari pelanggan.

“Kadang ada yang genit, tapi saya tidak menanggapi. Saya fokus saja pada pekerjaan,” ujarnya.

Sementara itu, Tiara (34) menghadapi tantangan dari lingkungan terdekatnya.

“Awalnya keluarga menyarankan cari pekerjaan lain karena saya perempuan. Tapi saya buktikan kalau saya nyaman dan menikmati pekerjaan ini. Sekarang mereka mendukung,” paparnya.

Di balik berbagai tantangan, kemampuan beradaptasi dan fokus pada tujuan menjadi kunci bagi mereka untuk terus melangkah.

Makna di Balik Setiap Perjalanan

Di tengah kesibukan, ada momen yang membuat pekerjaan ini terasa bermakna. Putri pernah menerima tip ratusan ribu rupiah dari pelanggan sebagai bentuk apresiasi.

Bagi Tiara, pengalaman berharga justru datang dari interaksi sehari-hari.

“Serunya bisa ketemu banyak orang baru, baik pelanggan, sesama kurir, maupun tim. Bahkan ada pelanggan yang mencari kalau sudah lama saya tidak mengantar paket,” katanya.

Sementara itu, Nuraini mensyukuri fleksibilitas waktu yang memungkinkan dirinya membagi peran sebagai ibu dari tiga anak.

“Waktunya fleksibel, jadi saya tetap bisa mengatur waktu untuk keluarga,” ujarnya.

Inklusivitas di Lion Parcel

Ketiganya sepakat bahwa lingkungan kerja di Lion Parcel sangat suportif. Putri merasa dirangkul dan dilindungi oleh tim, sementara Tiara menilai tidak ada perbedaan perlakuan antara kurir laki-laki dan perempuan.

Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai inisiatif, seperti pelatihan awal bagi kurir untuk memahami alur kerja dan standar operasional, serta forum silaturahmi rutin sebagai ruang berbagi pengalaman dan masukan.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif. 

Saat ini, lebih dari 25% karyawan Lion Parcel adalah perempuan, dengan beberapa di antaranya menempati posisi strategis di tingkat manajerial.

Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan di industri logistik semakin signifikan, termasuk dalam pengambilan keputusan.

Pesan di Momen Hari Kartini

Menjadi kurir telah membawa perubahan bagi Putri, Tiara, dan Nuraini—mulai dari kemandirian, kepercayaan diri, hingga peran dalam keluarga.

Di momen Hari Kartini, mereka berbagi pesan untuk perempuan lain.

Putri mendorong perempuan untuk terus mengembangkan diri dan berani mengambil peluang.

“Harus berusaha untuk mendapatkan kesempatan, dengan cara yang baik dan benar,” ujarnya.

Nuraini menekankan pentingnya kemandirian.

“Perempuan harus bisa mandiri, jangan bergantung pada orang lain,” katanya.

Semangat yang dahulu diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini kini hadir dalam berbagai bentuk. 

Di jalanan, melalui langkah para kurir perempuan yang terus bergerak dari satu titik ke titik lainnya, emansipasi bukan lagi sekadar wacana, melainkan nyata dalam setiap perjalanan dan paket yang mereka antarkan.