
Klaim Orang Desa Tak Pakai Dolar Dinilai Tidak Logis, Ini Penjelasannya
- Rupiah di Rp17.658 bukan hanya masalah pasar modal, tapi masalah dapur, karena hampir semua yang kita makan, punya komponen impor yang dibayar dengan dolar.
Banjar Update
JAKARTA - Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.657,5 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026. Angka ini bukan hanya sekadar pergerakan pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Harga kedelai mulai naik, ukuran tempe menyusut, hingga para pengrajin tahu di berbagai daerah harus mencari cara agar usaha mereka tetap berjalan.
Pelemahan tersebut juga tercatat sebagai salah satu titik terburuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang sejarah. Di tengah kekhawatiran publik soal kondisi ekonomi, Presiden Prabowo Subianto menyikapi situasi itu dengan santai saat berada di Nganjuk pada Sabtu, 16 Mei 2026.
"Rakyat di desa enggak pakai dollar kok," ujar Prabowo, dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden. Kalimat itu viral, tapi benarkah yang disampaikan Prabowo?
Apa yang Sebenarnya Kita Impor?
Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk sejumlah kebutuhan dasar, mulai dari pangan hingga kesehatan. Masalahnya, hampir seluruh transaksi impor tersebut dibayar menggunakan dolar AS.
Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis naik dan dampaknya bisa langsung terasa ke harga barang sehari-hari. Beberapa komoditas penting yang masih bergantung pada impor antara lain sebagai berikut,
- Kedelai
- Berdasarkan data BPS, impor kedelai Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 2,56 juta ton, dan sekitar 90% berasal dari Amerika Serikat. Kedelai merupakan bahan baku utama tempe dan tahu, dua sumber protein murah yang dikonsumsi hampir seluruh keluarga Indonesia.
- Gandum
- Indonesia mengimpor gandum senilai sekitar US$1,66 miliar dengan volume mencapai 4,43 miliar kilogram. Pemasok utamanya berasal dari Australia, Kanada, India, dan Amerika Serikat. Gandum menjadi bahan dasar mi instan, roti, biskuit, hingga gorengan tepung padahal tanaman ini hampir tidak diproduksi di Indonesia.
- Produk farmasi dan bahan baku obat
- Ketergantungan impor juga masih tinggi di sektor kesehatan, terutama untuk bahan baku aktif obat dan alat kesehatan. Negara pemasok utama berasal dari India, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Eropa.
- Minyak mentah dan BBM
- Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan sejumlah produk BBM untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Pelemahan rupiah membuat biaya energi menjadi lebih mahal.
- Pupuk dan pakan ternak
- Banyak bahan baku pupuk serta pakan ternak juga masih berasal dari impor. Dampaknya bisa menjalar ke harga hasil pertanian dan harga daging ayam maupun telur.
Intinya, pelemahan rupiah bukan hanya soal angka di pasar valuta asing. Ketika terlalu banyak kebutuhan dasar bergantung pada impor berbasis dolar, tekanan kurs bisa langsung memengaruhi biaya hidup masyarakat sehari-hari.
Baca juga : Paradoks Rupiah: Ekonomi Diklaim Naik 5,61%, Why Asing Malah 'Flight to Safety'?
Data yang perlu kamu pahami,
- Kurs hari ini: Rp17.657,5 per dolar AS (18 Mei 2026, Bloomberg)
- Impor kedelai 2025: 2,56 juta ton, 90% dari AS
- Impor gandum: 4,43 miliar kg, senilai 1,66 miliar dolar AS
- Harga kedelai di tingkat pengrajin: naik dari Rp8.700 menjadi Rp11.000 per kg
- Proyeksi inflasi 2026: 4,5 hingga 4,8 persen jika kurs tidak kembali ke bawah Rp17.000
- BBM nonsubsidi: Dexlite Rp26.000/liter, Pertamina Dex Rp27.900/liter
Orang Desa Tidak Pakai Dolar? Apakah Betul?
Secara literal, Prabowo tidak salah. Petani di Jawa Tengah memang tidak ke warung sambil pegang lembar hijau bertuliskan "Federal Reserve." Tapi perjalanan dolar ke dapur mereka tidak butuh kontak langsung.
Pengamat ekonomi UGM, Fahmy Radhi, menyebut pernyataan itu salah dan gegabah. Ia mencontohkan kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat menggunakan dolar. Ketika rupiah jatuh, harga kedelai ikut mahal, dan perajin tahu tempe di desa harus membeli bahan baku dengan harga lebih tinggi tanpa bisa menaikkan harga jual secara signifikan.
Masyarakat desa memang tidak memakai dolar di pasar, warung, sawah, atau kandang ternak. “Tetapi mereka tetap hidup dalam sistem harga nasional yang sangat dipengaruhi dolar,” ujar Fahmi dalam keterangannya, dikutip Senin, 18 Mei 2026.
Dampaknya tidak hanya soal kedelai. Saat mata uang melemah, biaya impor minyak dan gas, pupuk, pakan ternak, pestisida, obat-obatan, alat pertanian, plastik kemasan, dan barang konsumsi ikut naik. Kenaikan biaya ini bergerak melalui rantai distribusi dari pelabuhan, gudang, distributor, truk, pasar kecamatan, kios tani, hingga rumah tangga desa.
Yang paling ironis, kebutuhan kedelai nasional diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya berkisar 300 hingga 500 ribu ton.
Sisanya harus ditutup melalui impor, terutama dari Amerika Serikat dan Brasil. Kita bergantung pada luar negeri untuk bahan baku makanan paling "Indonesia" yang ada.
Baca juga : "Jangan Jadi 'Tumbal' Forced Sell Eks-BREN & AMMN, Cek Safe Haven Baru!"
Realita Lapangan, Kamu Harus Gimana?
Analis Ibrahim Assuaibi memperingatkan jika level Rp18.000 tertembus, ada kemungkinan rupiah bisa menuju Rp22.000. Penguatan dolar didorong oleh kepemimpinan baru The Fed di bawah Kevin Warsh yang diprediksi membawa kebijakan moneter lebih ketat, ditambah memanasnya situasi di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak.
Jika kondisi tersebut terjadi, hitung sendiri dampaknya, kedelai yang sekarang Rp11.000/kg bisa menyentuh Rp13.000-an. Harga mi instan, roti, dan semua produk berbasis tepung ikut naik.
BBM nonsubsidi yang sudah di angka Rp26.000-an per liter akan makin jauh dari jangkauan. Inflasi yang sudah diperkirakan 4,5-4,8% bisa melampaui angka itu.
Kurs tidak bisa kamu kendalikan, tapi pengeluaran bisa, sederet hal ini perlu kamu perhatikan jika mau bertahan,
- Kurangi ketergantungan pada produk olahan impor. Nasi dan sayuran lokal masih relatif terlindungi.
- Kalau punya tabungan menganggur, pertimbangkan diversifikasi ke aset yang tidak tergerus inflasi seperti emas atau reksa dana pasar uang.
- Pantau harga BBM nonsubsidi. Kalau naik lagi, biaya transportasi dan logistik ikut naik, dan semua harga barang mengikuti.
- Jika ada utang berbunga variabel, evaluasi ulang. Kenaikan suku bunga BI untuk menahan rupiah berarti cicilan bisa naik.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 18 May 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 18 Mei 2026
