
Mulai Bulan Depan, Pemko Banjarmasin Putuskan Pelajar SMP Belajar Tatap Muka
STARBANJAR- Waktu pelajar memulai untuk aktivitas belajar mengajar tatap muka akhirnya menemui titik terang.
Banjar Update
STARBANJAR- Waktu pelajar memulai untuk aktivitas belajar mengajar tatap muka akhirnya menemui titik terang.
Walikota Banjarmasin Ibnu Sina memutuskan, kegiatan belajar mengajar tata muka bagi siswa SMP se Kota Banjarmasin, akan dilaksanakan di awal tahun 2021 nanti.
Keputusan tersebut merupakan hasil rapat lintas SKPD, Disdik Kota Banjarmasin dan Dinkes Kota Banjarmasin dan instansi terkait lingkup Pemko Banjarmasin, Selasa (29/12/2020).
Dalam rapat final yang dilaksanakan di ruang Rapat Berintegrasi, Balai Kota Banjarmasin, Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina kembali menjelaskan, keputusan untuk memberlakukan sistem tatap muka dalam proses belajar mengajar itu mengacu pada surat keputusan bersama empat menteri yaitu, Menteri Pendidikan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri.
Dalam SKB empat Kementrian menyatakan, kewenangan untuk melakukan keputusan terhadap pembelajaran tatap muka diserahkan kepada daerah yang bersangkutan dengan mengacu pada situasi yang berkembang di daerah tersebut.
Bagi sekolah yang masuk dalam zona merah sementara ini para muridnya tidak diperkenankan untuk turun.
“Jadi untuk Kota Banjarmasin, Walikota yang memutuskan, dan Insya Allah hari ini ulun sudah memutuskan, setelah mendengar penjelasan secara teknis dan mempertimbangkan semua pihak, maka insyaallah mulai tanggal 11 Januari 2021 pembelajaran tatap muka di tingkat SMP akan kita mulai, 4 jam sehari dengan protokol kesehatan ketat,” ujar Ibnu usai rapat.
Selain tingkat SMP, untuk siswa SD juga akan dilakukan sistem pembelajaran tatap muka. Hanya saja, saat ini terlebih dahulu akan dilakukan simulasi yang akan dilaksanakan tanggal 18 Januari 2021 nanti.
“Kami berharap ini bisa menjawab berbagai macam harapan dan juga masukan dari semua pihak, tentu tidak mudah untuk memutuskannya, tetapi setelah 8 bulan proses pembelajaran ini berhenti, maka evaluasi secara keseluruhan kita lakukan dan akhirnya diputuskan pilihan terbaik hari ini adalah dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka,” kata dia.
Keputusan ini diperkuat dengan hasio survey yang telah dilaksanakan Disdik Kota Banjarmasin ke para orangtua siswa se Kota Banjarmasin.
Ibnu Sina memastikan jumlah dukungan agar Pemko Banjarmasin melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka mencapai 82 persen.
Setelah kegiatan simulasi tatap muka selesai dilaksanakan, bebernya, survey untuk mengetahui respon para orangtua terhadap rencana pembelajaran tatap muka kembali dilakukan.
Hasilnya, sekira 75 persen para orangtua siswa sangat mendukung Pemko Banjarmasin melaksanakan sistem pembelajaran dengan metode tatap muka.
Ibnu menyebut sistem pembelajaran tatap muka ini, akan diberlakukan bagi sekolah yang telah mendapatkan persetujuan dari para orangtua siswanya dan mengajukan izin ke Pemko Banjarmasin untuk melaksanakan sistem pembelajaran tersebut.
“Artinya sekolah-sekolah mengajukan kita berikan izin, tentu dengan protokol kesehatan dan cacatan pentingnya adalah, begitu ditemukan kasus Covid-19 di sekolah tersebut, maka pembelajaran tatap muka maka kita hentikan, artinya dilakukan lagi tindakan mulai awal lagi sampai kemudian mendapatkan izin kembali,” tegas Ibnu.
Untuk tingkat SD, sistem pembelajaran tatap muka ini sementara hanya akan diberikan untuk siswa kelas 4,5 dan 6. Hal ini dilakukan sesuai dengan usul masukan dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
Selain menerapkan aturan protokol kesehatan, dalam kegiatan belajar mengajar sistem tatap muka nanti, seluruh pengajarnya juga harus melaksanakan swab tes.
Dan bagi pengajar dengan tingkat resiko tinggi atau penyakit bawaan, akan diprioritaskan untuk mengikuti tes swab terlebih dahulu, dengan begitu bisa diketahui lebih awal, apakah pengajar tersebut bisa mengikuti pembelajaran tatap muka, atau disuruh istirahat aja di rumah.
“Artinya untuk memastikan bahwa yang mengikuti pembelajaran ini adalah orang-orang yang betul-betul negatif, bukan yang kemudian positif covid. Per 6 hari kita evaluasi apakah ada penularan atau tidak, kemudian durasi pembelajaran itu hanya 4 jam perhari, dengan ruangan yang di rancang jaraknya 1 setengah meter antar siswa,” imbuhnya.
Tak hanya menerapkan protokol kesehatan dan melakukan pemeriksaan kepada para pengajar, dalam kegiatan pembelajaran tatap muka nanti, disetiap sekolah juga akan dibentuk Satgas Covid-19 Satuan Pendidikan ditambah dari Dinkes yang akan melakukan evaluasi kesiapan sekolah melalui Tim Visitasi.
