
Peta Persaingan Bisnis LPG di Indonesia, Siapa Pemain Terbesarnya?
- Siapa penguasa bisnis LPG di Indonesia? Simak daftar perusahaan terbesar, dominasi Pertamina Patra Niaga, hingga alasan Indonesia masih bergantung pada impor.
Banjar Update
JAKARTA — Siapa sebenarnya yang menguasai bisnis LPG di Indonesia? Pertanyaan ini kerap mengemuka seiring tingginya kebutuhan masyarakat terhadap gas LPG. Meskipun terdapat sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan distribusi LPG, pangsa pasar nasional masih didominasi oleh Grup Pertamina.
Lewat anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga (PPN), Pertamina mengendalikan lebih dari 80% pasokan LPG di Indonesia. Pasokan tersebut berasal dari produksi domestik maupun impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Posisi tersebut menjadikan perusahaan pelat merah itu sebagai pemain utama dalam industri LPG nasional. Perannya mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari pengadaan, impor, distribusi, hingga penyaluran LPG kepada masyarakat.
Di sisi lain, Indonesia hingga kini masih belum mampu memenuhi kebutuhan LPG dari produksi domestik. Sekitar 75-80% konsumsi nasional masih bergantung pada impor, sehingga bisnis LPG juga sangat dipengaruhi dinamika perdagangan energi global.
Baca juga : Siapa Penguasa Pasar Mi Instan Indonesia?
Lantas, siapa saja perusahaan yang menjadi penguasa bisnis LPG di Indonesia?
PT Pertamina Patra Niaga, Raja Bisnis LPG Nasional
Posisi teratas ditempati PT Pertamina Patra Niaga, subholding Commercial & Trading Pertamina yang menjadi tulang punggung distribusi LPG di Indonesia.
Perusahaan ini mengelola dua segmen utama pasar LPG, yakni,
- LPG subsidi (Public Service Obligation/PSO) berupa tabung gas melon 3 kg.
- LPG nonsubsidi yang dipasarkan melalui merek BrightGas.
Selain menjual langsung kepada konsumen, Pertamina Patra Niaga juga memasok LPG secara bulk kepada sejumlah perusahaan swasta yang kemudian mengemas dan menjualnya dengan merek masing-masing, seperti BlueGas dan PrimeGas.
Dengan penguasaan lebih dari 80% pasokan LPG nasional, Pertamina Patra Niaga praktis menjadi pemain paling dominan di industri ini.
Namun, dominasi tersebut juga sempat menjadi sorotan regulator. Pada Maret 2025, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mulai menyelidiki dugaan praktik monopoli di pasar LPG nonsubsidi.
KPPU menduga harga LPG nonsubsidi dijual dengan margin keuntungan yang jauh lebih tinggi dibanding LPG subsidi, bahkan disebut menghasilkan laba sekitar 10 kali lebih besar atau mencapai sekitar Rp1,5 triliun. Kondisi tersebut dinilai mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan LPG subsidi sehingga meningkatkan beban anggaran negara.
Daftar Perusahaan Besar di Industri LPG Indonesia
Selain Pertamina Patra Niaga, terdapat sejumlah perusahaan yang berperan penting dalam produksi maupun pengolahan LPG nasional diantaranya sebagai berikut,
1. PT Pertamina Gas (Pertagas)
Pertagas merupakan produsen LPG terbesar di Indonesia sekaligus anak usaha Pertamina yang bergerak di sektor gas bumi dan infrastruktur energi. Perusahaan ini menjadi salah satu pemasok utama LPG domestik yang kemudian didistribusikan melalui jaringan Pertamina maupun kebutuhan industri.
2. PT Perta-Samtan Gas (PSG)
PT Perta-Samtan Gas merupakan perusahaan patungan antara Pertagas dengan ST International asal Korea Selatan. Perusahaan ini mengoperasikan kilang LPG terbesar kedua di Indonesia setelah Kilang Balongan.
Perannya cukup strategis karena mampu memasok sekitar 50% kebutuhan LPG Sumatera Bagian Selatan.
3. PT Badak NGL
Nama berikutnya adalah PT Badak NGL, anak usaha Pertamina Hulu Energi yang dikenal sebagai operator kilang LNG terbesar di Indonesia. Selain LNG, perusahaan juga memproduksi LPG dari fasilitas pengolahan gas di Bontang, Kalimantan Timur. Kilang Badak NGL bahkan menjadi salah satu fasilitas pengolahan gas terbesar di dunia.
Baca juga : 5 Barang yang Sebaiknya Dijual Kelas Menengah untuk Tambahan Uang
4. PT ESSA Industries Indonesia Tbk
Dari kelompok swasta, PT ESSA Industries Indonesia Tbk menjadi salah satu pemain terbesar. Perseroan mengoperasikan kilang LPG domestik terbesar milik swasta di Indonesia yang berlokasi di Palembang dengan kapasitas produksi sekitar 190 ton per hari.
5. PT Arsynergy NiX Indonesia (ArsyGas)
ArsyGas dikenal sebagai satu-satunya grup swasta nasional yang telah memiliki rantai bisnis LPG terintegrasi. Perusahaan ini memiliki kilang LPG sendiri, stasiun pengisian LPG, jaringan distribusi sendiri. Kilang ArsyGas yang berlokasi di Gresik memiliki kapasitas sekitar 190 ton per hari.
Mengapa Indonesia Masih Bergantung pada Impor LPG?
Meski memiliki sejumlah produsen dalam negeri, Indonesia hingga kini masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan LPG nasional.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, kondisi pasar LPG Indonesia adalah sebagai berikut,
- Konsumsi LPG nasional (2024): sekitar 8,9 juta ton per tahun.
- Produksi domestik: sekitar 1,96 juta ton per tahun.
- Impor LPG: sekitar 7 juta ton per tahun.
- Proyeksi konsumsi 2026: mendekati 10 juta ton.
Artinya, sekitar 75–80% kebutuhan LPG Indonesia masih dipenuhi dari impor, sehingga pasokan dalam negeri sangat dipengaruhi harga energi internasional, nilai tukar rupiah, serta kondisi geopolitik global.
Dalam bisnis impor LPG, Pertamina Patra Niaga kembali menjadi pemain utama. Perusahaan ini merupakan importir LPG terbesar yang memasok sebagian besar kebutuhan nasional.
Memasuki 2026, Pertamina Patra Niaga mulai mengubah strategi pengadaan LPG. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain,
- Meningkatkan porsi impor LPG dari Amerika Serikat dari sekitar 57% menjadi 70%.
- Menjadi bagian dari kesepakatan dagang Indonesia-Amerika Serikat senilai US$15 miliar.
- Dari nilai tersebut, sekitar US$3,5 miliar dialokasikan untuk impor LPG.
- Diversifikasi ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari Timur Tengah sekaligus memitigasi risiko gangguan rantai pasok akibat konflik kawasan.
BLU Lemigas Kini Bisa Mengimpor LPG
Peta bisnis impor LPG juga berubah setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026.
Regulasi yang ditandatangani Presiden Prabowo dan berlaku sejak 30 April 2026 tersebut memberikan kewenangan kepada Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) untuk mengimpor minyak mentah, BBM, dan LPG.
Sebelumnya, kegiatan impor energi tersebut pada praktiknya didominasi BUMN, khususnya Pertamina.
Kini, BLU di sektor energi juga dapat melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan cadangan penyangga energi maupun cadangan operasional nasional.
Selain Pertamina dan Lemigas, perusahaan pengguna langsung LPG untuk kebutuhan industri juga dapat melakukan impor setelah memperoleh:
- Rekomendasi dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas).
- Persetujuan atau izin dari Menteri Perdagangan.
Selain membuka peluang impor bagi BLU Lemigas, pemerintah juga menerapkan sejumlah kebijakan baru pada 2026 guna menjaga stabilitas pasokan LPG nasional. Beberapa kebijakan tersebut meliputi,
- Perpres Nomor 26 Tahun 2026 yang mengatur pengadaan minyak, BBM, dan LPG untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
- Penurunan bea masuk impor LPG dari 5% menjadi 0% pada semester II 2026 guna menekan harga di tengah gejolak konflik Timur Tengah.
- Diversifikasi sumber impor, dengan target sekitar 70% pasokan LPG berasal dari Amerika Serikat.
Jika ditanya siapa penguasa bisnis LPG di Indonesia, jawabannya masih jelas berada di tangan PT Pertamina Patra Niaga.
Perusahaan ini menguasai lebih dari 80% pasokan LPG nasional, menjadi importir terbesar, sekaligus mengelola distribusi LPG subsidi maupun nonsubsidi melalui jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Di belakangnya terdapat sejumlah produsen penting seperti Pertamina Gas (Pertagas), PT Perta-Samtan Gas, PT Badak NGL, PT ESSA Industries Indonesia Tbk, dan PT Arsynergy NiX Indonesia (ArsyGas) yang menopang pasokan LPG domestik.
Namun, karena produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 1,96 juta ton sementara konsumsi sudah mencapai 8,9 juta ton per tahun dan diproyeksikan mendekati 10 juta ton pada 2026, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta ton LPG atau sekitar 75–80% kebutuhan nasional.
Kondisi tersebut membuat kebijakan impor, diversifikasi sumber pasokan, serta strategi Pertamina akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah bisnis LPG Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 14 Jul 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 14 Jul 2026
