Ekonomi dan Bisnis

PKBI Kalsel Kenalkan UMKM Kelompok Marginal di Festival Ekonomi Kreatif 2023

  • Festival Ekonomi Kreatif (FEK) digelar oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Kalimantan Selatan menghadirkan sejumlah stand kelompok margi
Ekonomi dan Bisnis
M Rahim Arza

M Rahim Arza

Author

Festival Ekonomi Kreatif (FEK) digelar oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Kalimantan Selatan menghadirkan sejumlah stand kelompok marginal di Wetland Square, Kelurahan Kebun Bunga, Kota Banjarmasin. Dengan mengusung tema: “Diversity in Beauty”, hal itu bertujuan untuk Menciptakan Masyarakat yang Inklusif.

Nampak berdiri sejumlah stand di antaranya, yaitu Salon Anggi'e, Salon Denny, Ayam Geprek Onie, Uyah Acan Banjar, Salon Zanica, Salon 3 RM, Icip.box, GKE, Persatuan Tunanetra Indonesia dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis.

Stand Kelompok Marginal dan Mitra PKBI Kalsel

"Kita punya 10 stand dari dampingan atau mitra PKBI Kalsel. Dan 6 di antaranya yaitu kelompok transpuan yang mengisi stand," ucap Ketua Pelaksana, Nur Chalisah kepada Starbanjar, pada Sabtu (23/9/2023) sore.

Chalisah mengungkapkan sejumlah pameran, yaitu stand STIE Banjarmasin (Stand Icip.box), Yayasan Pensil Waja Banua (Stand Tunanetra), stand Kesehatan Layanan Gratis dan stand Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Banjarmasin. Sementara, keenam stand transpuan itu mengenalkan jualan dan pekerjaannya, yaitu salon, ayam geprek dan uyah acan.

Melalui pameran itu, Chalisah menyebut sebagai salah satu upaya untuk memaksimalkan pemasaran usaha dari kelompok dampingan secara lebih luas lagi. Untuk usaha teman-teman kelompok dampingan, menurutnya memang sudah berjalan cukup lama untuk itu pihak PKBI Kalsel juga berupaya agar usahanya lebih diperkuat lagi dengan mengadakan berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan, serta melalui festival ini untuk lebih memberdayakan perekonomian mereka.

Kata Chalisah, PKBI Kalsel telah memberikan layanan dasar dalam meningkatkan kapasitas kelompok marginal agar lebih berdaya. Terlebih, dia menyebut keterampilan salon lebih terasah dan produk mereka, bagaimana laris di pasaran baik melalui online maupun toko.

"Kita sudah memberikan latihan itu agar pemasarannya tepat, jadi tinggal promosi. Waktu itu pelatihan, bagaimana melakukan branding di media sosial, managemen usaha dan sebagainya," kata Chalisah.

Chalisah menuturkan, langkah itu merupakan bagian program 'Inklusi' sehingga pengenalan kelompok terpinggirkan ke masyarakat lebih dikuatkan lagi.

"Program inklusi ini sudah jalan di tahun kedua," ujarnya.

Pada sore itu, kegiatan Talkshow Kewirausahaan di gelar yang mengundang praktisi, akademisi dan stakeholder terkait untuk membicarakan topik “Mengembangkan Usaha Ekonomi Kreatif yang Inklusif”.

Menghadirkan narasumber dari akademisi STIE Indonesia Banjarmasin, Erini Junita Sari. Direktur Eksekutif Daerah (DED) PKBI Kalsel, Hapniah dan perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota 
Banjarmasin.

Hapniah, Direktur Eksekutif Daerah PKBI Kalimantan Selatan ingin mengenalkan kelompok marginal melalui festival ini sehingga masyarakat lebih mengetahui keberadaannya. Sebelumnya, dia menyampaikan bahwa mereka telah diberi keterampilan dasar untuk ditingkatkan kapasitas dirinya.

"Sebenarnya PKBI Kalsel ingin melakukan pentahelix di kegiatan ini. Melibatkan banyak stakeholder, maka akan tercipta inklusi itu," ungkap Hapniah.

Hapniah menyadari belum maksimal dalam kerjasama itu, namun ke depannya bakal melibatkan banyak orang untuk bekerjasama. Tentunya, dia mendorong dunia usaha dan permodalan untuk kelompok marginal tersebut.

Ke depan, Hapniah ingin bekerjasama di pihak pemerintah itu seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskopumker), Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).

"Kerjasama dengan pemerintah memang belum kuat, dan masih belum parsial. Hal itu, bertujuan untuk mendorong kota menjadi lebih inklusi kepada kelompok marginal," tandasnya.

Diketahui bahwa Kota Banjarmasin menjadi yang pertama di Indonesia menuju status kota inklusi. Hal itu diwujudkan dengan Perda Nomor 3 tahun 2022 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas, sebagai pengganti Perda Nomor 9 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.

Dan acara ini dihadiri oleh mahasiswa STIE Indonesia Banjarmasin, anggota GKE, pengurus Yayasan Pensil Waja Banua, Mahasiswa UMB, Kelompok Dampingan dan CMR Kalsel.