Cerita Gang Penatu, Dari Pusat Laudry hingga Berkembang Jadi Wadah Percetakan di Banjarmasin

Wisata & Kuliner 14 Sep 2020, By Tim Starbanjar
Cerita Gang Penatu, Dari Pusat Laudry hingga Berkembang Jadi Wadah Percetakan di Banjarmasin (Source: Starbanjar/Ari Arung Purnama)

STARBANJAR- Tersembunyi di antara deretan bangunan ruko tua di Jalan Pangeran Samudera, Kota Banjarmasin, terdapat sebuah kawasan yang sempat berjaya menjadi pusat percetakan, wadah jual beli buku, hingga barang-barang bekas. Orang-orang acapkali menyebutnya Gang Penatu. Malahan, jika ditarik lebih jauh jejak sejarahnya, tempat ini lebih beken dikenal sebagai wadah laundry warga Kota Seribu Sungai tempo dulu.

Hal tersebut diceritakan Hajuari. Sebagai salah satu saksi sejarah di Gang Penatu, ia mengakui dulu tempat ini dijadikan warga Banjarmasin sebagai pusat laundry.

"Awalnya ini pusat penatu, kalau sekarang namanya Laundry ya? Nah, disini banyak yang buka usaha itu sebelum ini jadi pusat percetakan. Kalo dilain dapat 5 pekerjaan penatu, disini bisa 10. Dua kali lipatnya," tutur Hajuari.

Dia menceritakan, peralihan usaha penatu ke percetakan baru dimulai daro tahun 1985. Hajuari tidak tahu alasan pastinya, namun semenjak tahun tersebut usaha percetakan mulai tumbuh di gang ini. Seiring menjamurnya percetakan di gang tersebut, beberapa media juga sempat tumbuh disekitaran gang penatu.

"Ada Media Masyarakat dulu disebelah gang kita, sekarang jadi lahan parkir mobil," jelas dia sambil mengukir nisan pesanan pelanggannya.

Hajuari menuturkan bahwa gang penatu sendiri bukan hanya satu gang yang berada di samping jajaran toko buku di kawasan Jalan Pangeran Samudra. Daerahnya tersebar sampai daerah Masjid Noor Banjarmasin. Namun, kawasan itu sekarang menyusut dikarenakan pembagian wilayah RT.

Pusat percetakan di gang penatu juga tidak luput dari resesi akibat pandemi covid-19. Toko-toko percetakan disepanjang jalan gang penatu yang biasanya buka kini hanya setengah yang buka. Hajuari menjelaskan bahwa para tukang percetakan disini bukannya bankrut, tapi tidak ada pekerjaan yang masuk. Akibatnya mereka mengandalkan pemasukan dari pekerjaan kedua mereka.

"Kalo saya itu, banyak memiliki pelanggan tetap. Jadi masih mampu buka ditengah pandemi. Yang kasihan itu orang-orang yang berada jauh didalam gang serta tidak memiliki izin usaha," jelas Hajuari.

Sebelum pandemi, dia menjelaskan bahwa pedagang disini paling tidak bisa mendapatkan satu proyek setiap pekan yang nilainya diatas 1 juta rupiah. Bahkan jika kewalahan, mereka bisa membagi proyeknya dengan pedagang di percetakan lain. Sayangnya, semenjak covid-19, tidak banyak yang memesan produk cetak di gang penatu.

"Sekarang pandemi semua orang disuruh didalam rumah. Semua jadi online. Permintaan akan produk cetak jadi berkurang. Mungkin itu penyebabnya," menurut Ateng, rekan Hajuari.

Ditengah pandemi ini juga, dia menuturkan bahwa mereka sempat mendapatkan bantuan sosial untuk keluarga terdampak covid-19. Namun tidak ada satupun bantuan yang diberikan untuk usaha terdampak covid-19.

"Kami (pengusaha di sini) tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pernah ada bank yang membantu, tapi bentuknya cuma pinjaman. Tidak ada subsidi sepenuhnya maupun pembinaan," ujar Ateng.

"Kami disini benar-benar mandiri. Jalan dikampung ini juga milik tanah pribadi warga sekitar sini. Makanya kami sangat rekat satu sama lain," Hajuari menambahkan.

Selain resesi akibat pandemi covid-19, masalah regenerasi juga menjadi penyebab berkurangnya pengrajin percetakan di Gang Penatu. Hajuari mengungkap banyak warga yang mulai menjual tanahnya di daerah ini karena tidak lagi ditempati oleh keturunannya.

"Harga tanah disini lumayan. Meski kecil luasnya, nilainya tetap besar karena berada ditengah kota, di dekat pasar. Itu juga faktor lain yang mendorong mereka untuk menjual tanahnya di sini," jelas Hajuari.

Ateng dan Hajuari berharap eksistensi Gang Penatu bisa terus berlanjut dan tidak terlupakan. Sebab gang ini menjadi saksi bisu perkembangan Kota Banjarmasin dari zaman ke zaman.

undefined

Ari Arung Purnama