Cerita 'Kebablasan', Bangun Bisnis Kudapan Timur Tengah hingga Punya Lima Outlet di Banjarmasin

Wisata & Kuliner 4 Okt 2020, By Tim Starbanjar
Cerita 'Kebablasan', Bangun Bisnis Kudapan Timur Tengah hingga Punya Lima Outlet di Banjarmasin (Source: Tim Starbanjar/Ihya Ul Alfi Mubarak)

 

Mengambil potensi usaha kudapan khas Timur Tengah dengan nama yang terbilang unik, Kebablasan menjadi salah satu brand produk kebab ternama di Banjarmasin dengan total 5 outlet yang tersebar di dalam kota dan luar kota. Bahkan, brand kebab yang satu ini mampu raup keuntungan jutaan rupiah tiap pekannya dan bertahan selama enam tahun.

*****

Ditemui di homebase mereka di Bunyamin Permai, Taufiq Nurdiansen –pemilik Kebablasan- menuturkan bisnis ini ia bangun bersama sepupunya di pertengahan tahun 2014. Bermodalkan rombong yang berpangkalan di samping jalan raya Ahmad Yani Kilometer 5 samping jembatan dekat Samsung Center, mereka memulai usaha tersebut dengan konsep take away.

Taufiq bercerita bagaimana nama brand yang cukup unik ini diperoleh. Ia bertutur bahwa  ide nama tersebut diperoleh dari peristiwa yang dialami oleh mayoritas pelanggannya yang sering ‘kebablasan’ atau kelewatan karena berada di jalur jalan raya yang padat.

“Dulu, kan sewaktu masih di sana (Jalan A.Yani KM 5 dekat jembatan) pelanggan kami sering ‘kebablasan’ ke Pal 6 kalau mau mampir kesini, tapi akhirnya tetap mutar kembali dan mampir,” jelas Taufiq.

“Dari situ akhirnya kami jadikan ide nama brand kami, Kebab-blasan,” sambungnya sambil tersenyum. 

Taufiq mengaku ide awal membuka usaha kebab ini berasal dari sepupunya tersebut. Ia meminta Taufiq untuk berkolaborasi merintis usaha tersebut dan akhirnya membuat Taufiq tertarik.

“Saat itu saya baru lulus kuliah dan beliau sudah bekerja saat itu. Ketika ditawari bikin usaha, saya mau dan akhirnya merantau dari Medan kesini,” tambahnya.

Kini, Kebablasan memiliki total 5 outlet di Banjarmasin dengan konsep yang berbeda dari kebanyakan brand lainnya. Menariknya, outlet yang dimiliki oleh Kebablasan berdesain kekinian. Berada di 2 lokasi yang cukup strategis, di wilayah Kawasan Wisata Kuliner Baiman dan di Jalan Sultan Adam, Taufiq mengatakan bahwa mereka memang ingin menghadirkan konsep yang berbeda dari brand kebab-kebab kompetitor mereka. Bahkan, ia mengungkapkan mereka akan memperbarui seluruh outlet mereka seperti di dua lokasi tersebut.

“Kita ingin beda dari kebab-kebab yang lain, Mas. Sudah banyak brand kebab dengan nama yang unik-unik. Tinggal konsep marketing dan desain outlet serta produknya saja lagi yang bersaing,” tambahnya menperjelas.

Ingin dikenal sebagai kebab specialty, Taufiq mengakui hal tersebut memiliki kendala juga tantangan. Ia menuturkan bahwa brand-nya harus menyiapkan SOP yang cukup ketat untuk menjaga kualitas rasa kebab olahan mereka.

Di sisi lain, rotasi pegawai outlet mereka yang cukup cepat pernah mereka alami di awal-awal merintis beberapa cabang di Banjarmasin sehingga cukup menyulitkan mereka untuk menjaga standar kualitas kebab sesuai SOP.

“Akhirnya kan kita musti training lagi dan lagi. Cape, Mas, kalo akhirnya terputar-putar di training karyawan karena makan cukup banyak waktu,” tandasnya. 

Brand yang saat ini cukup dikenal dengan pelopor kudapan khas timur tengah di Banjarmasin ini optimis akan mampu menghadapi tantangan ke depannya walau masa pandemi masih berlanjut. Taufiq juga menuturkan meskipun sempat mengalami penurunan omzet pada Maret-April lalu yang berimbas pada penutupan outlet mereka di Duta Mall.

Menurutnya, UMKM di Banjarmasin, khususnya di bidang kuliner cepat saji seperti kebab miliknya dituntut kreatif dan inovatif, tidak melulu dengan konsep yang sama. Karena akhirnya masyarakat sebagai pelanggan akan bosan dengan produk tersebut. Desain outlet sangat berpengaruh, itu poin yang ditekankan oleh Taufiq di akhir perbincangan.

“Karena pengusaha kalau tidak kreatif, ya mati,” ungkap Taufiq menutup pernyataanya.

 

undefined

Redaksi Starbanjar