Kolaborasi Lintas Sektor, Kunci Topang Pertumbuhan Ekonomi Kreatif di Kalsel

Redaksi Starbanjar -09 Januari 2021 00:33 WIB,
istimewa (sumber: Salah satu produk kerajinan berbahan dasar arang karya pelaku ekraf Banua, yang berhasil menembus pasar internasional, Source: Istimewa)
STARBANJAR - Sektor ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan punya potensi untuk bersaing dengan daerah lain, sekaligus menyerap tenaga kerja di Banua.

Farid Fathurrahman Ketua Kalsel Kreatif Forum (KKF) menuturkan perlu ada upaya yang serius untuk memajukan ekonomi kreatif di Kalsel, baik itu pemerintah, perbankan, akademisi, komunitas, masyarakat hingga pebisnis.

"Sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memajukan ekonomi kreatif di Kalsel, mengingat potensinya sangat besar," ujar Farid saat dihubungi, Jum'at (8/1/2020).

Meski demikian, Farid mengakui sejumlah bidang di ekonomi kreatif yang masih belum tergarap dengan maksimal. Tercatat hanya ada 300an pelaku ekraf yang tergabung dengan KKF Kalsel.

Oleh karena itu, KKF mengambil peran untuk menjembatani antar pelaku ekonomi kreatif di Kalsel, sehingga bisa saling berkolaborasi dan berbagi inovasi.

"Ekraf sekarang menjadi booming, andalan untuk menggerakkan roda ekonomi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai daerah lain di dunia," ucap Head of Cerdas Banua Mandiri Foundation ini.

Dia menyebut kunci pelaku ekonomi kreatif kolaborasi, bukan kompetisi antar sesama pelaku ekonomi kreatif.

Farid mencontohkan pelaku ekraf di bidang fashion yang berkolaborasi dengan desainer, untuk menciptakan model terbaru.

Dalam waktu dekat, kata dia KKF akan menggelar kegiatan, yakni creative talk, dan pelantikan pengurus KKF Kalsel periode 2020-2023.

"Kegiatannya terbatas hanya 30 peserta, dalam protokol kesehatan yang ketat, kita mengundang sejumlah sektor untuk merumuskan lengkah ekraf di Banua kedepannya," ungkap Farid.

Dia menuturkan kegiatan tersebut untuk mengisi miss link antar sektor di ekonomi kreatif, sehingga bisa tumbuh berkembang, terutama menghadapi Pandemi Covid-19.

Sementara itu, Sri Hidayah menyebut sumbangsih ekonomi kreatif tidak sedikit, misalnya produk Rumah Pengarang Charcoal Gallery produsen produk yang berbahan dasar arang menjadi kerajinan seni dan aksesoris tersebut, telah menjangkau pembeli hingga ke mancanegara. 

Baginya, tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam untuk menggerakkan ekonomi daerah karena lambat laun akan habis.

Akademisi FISIP ULM ini berpendapat harus mulai memikirkan sumber daya terbarukan yang menjadi andalan Banua, salah satunya ekonomi kreatif.

"Sampai kapan kita berharap pertambangan misalnya, mulai sekarang perlu ada keseriusan untuk menggerakkan ekonomi kreatif di Kalsel," tutup Sri Hidayah.

Berdasarkan data yang dihimpun jejakrekam, Kontribusi sektor ekonomi kreatif Indonesia terhadap PDB hanya kalah dari Amerika Serikat dan Korea Selatan. Hal ini terutama didukung oleh pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) uang jumlahnya mencapai 61 juta.

Dari 17 subsektor ekonomi kreatif menyumbang 7,28 persen terhadap PDB Indonesia tahun 2019 lalu, atau setara dengan lebih dari Rp 1.000 triliun.
 
Bagikan:

RELATED NEWS