Penelitian: Toko Kelontong Lebih Tangguh Ketimbang Minimarket saat Masa Pandemi

Ekonomi, Finansial, & Fintech 4 Des 2020, By Tim Starbanjar
Penelitian: Toko Kelontong Lebih Tangguh Ketimbang Minimarket saat Masa Pandemi (Source: DRP)

STARBANJAR- Toko kelontong berskala kecil seperti warung atau minimarket ternyata lebih tahan banting dibandingkan dengan supermarket selama pandemi COVID-19. Kekebalan ini diproyeksi akan berlanjut tahun depan.

Lembaga pemeringakatan, Fitch Ratings merilis publikasi yang menyebut, kedekatan akses dengan konsumen membuat minimarket lebih resistan dan  menghasilkan prospek pemulihan yang lebih awal dan lebih baik.

“Kami mengharapkan sentimen konsumen, daya beli dan pengeluaran untuk pulih secara bertahap pada 2021 seiring meredanya pandemi, dengan minimarket menjadi penerima manfaat utama,” kata Ilham Kurniawan, Analis Fitch Ratings, dinukil dari laporan resmi, Jumat, 4 November 2020.

Publikasi tersebut melaporkan, belanja bahan makanan Indonesia turun 4,9% secara tahunan pada Januari-September 2020. Pengeluaran di minimarket perdagangan modern tumbuh sebesar 6% pada periode yang sama.

Di sisi lain, pengeluaran di supermarket dan hipermarket turun hingga 9,5%. Data Bank Indonesia menunjukkan indeks penjualan ritel turun 3,8% untuk April-September 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Data ini didukung oleh capaian kinerja PT Hero Supermarket Tbk (HERO), yang lebih dulu mencatat penurunan pendapatan kuartalan bahkan sebelum pandemi karena persaingan dari minimarket. Pendapatan HERO turun 19% secara kuartalan pada kuartal III-2020.

Kontraksi ini lebih dalam dibandingkan dengan kuartal II-2020 sebesar 9,4% dan 6,5% pada tiga bulan pertama tahun ini. Rasio kerugian operasional terhadap penjualan meningkat lebih dari empat kali lipat menjadi 13,1% secara tahunan pada kuartal III-2020, lebih dalam kuartal sebelumnya sebesar 7,7%.

Demikian pula, pendapatan operator hypermarket PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mengalami kontraksi sebesar 20,9% secara tahunan pada semester pertama 2020. Walhasil, rasio kerugian operasional terhadap penjualan mencapai 3,6%.

Sebaliknya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pemegang merek Alfamart melaporkan kenaikan pendapatan 4,2% secara tahunan pada September 2020.

Sementara itu, same store sales growth (SSSG) menurun jadi -5,1% pada kuartal III-2020. Membaik dari posisi kuartal II-2020 -11,4%. Penjualan rata-rata kuartalan per toko sebagian besar juga stabil di kisaran Rp1,1 miliar sepanjang 2020.

Sebab itu, tak heran jika supermarket telah tertinggal jauh di belakang minimarket selama pandemi. Ke depan, hal ini membuat persaingan antara supermarket dengan minimarket akan semakin sulit.

Penambahan toko bersih konsolidasi Alfamart mencapai 1.000 pada Januari-September 2020. Sementara HERO dan MPPA mencatat pengurangan toko bersih sekitar 2% -5% pada periode yang sama.

Pada akhir September 2020, Alfamart memiliki 17.129 gerai yang beroperasi. Jauh lebih banyak dibandingkan dengan kurang dari 500 gerai dari HERO dan MPPA.
undefined

Redaksi Starbanjar