Penjualan Eceran di Kota Banjarmasin Mulai Membaik Meski Masih Fase Kontraksi

Ekonomi, Finansial, & Fintech 9 Sep 2020, By Tim Starbanjar
Penjualan Eceran di Kota Banjarmasin Mulai Membaik Meski Masih Fase Kontraksi (Source: Istimewa)

STARBANJAR - Bank Indonesia (BI) melaporkan hasil survei penjualan eceran pada Juli 2020 mulai membaik. Meskipun masih dalam fase kontraksi, Indeks Penjualan Riil (IPR) secara nasional sebesar -12,3% year-on-year (yoy), lebih baik dibandingkan bulan Juni 2020 yang sebesar -17,1% yoy.

Adapun Kota Banjarmasin tumbuh sebesar -32,4% yoy,lebih baik dibandingkan bulan Juni 2020 yang sebesar -36,2% yoy.

Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan, perbaikan penjualan terjadi pada hampir seluruh kelompok komoditas yang disurvei.

“Namun, penjualan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami masih terkontraksi sebesar -1,9% yoy,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2020).

Meskipun demikian, katanya, hal itu sudah cukup baik sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat dan implementasi adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Kinerja penjualan eceran diprakirakan terus membaik pada Agustus 2020, ditopang hampir seluruh kelompok barang. Pertumbuhan IPR Agustus 2020 secara nasional diperkirakan sebesar -10,1% yoy, membaik dari bulan sebelumnya.

Sedangkan di Banjarmasin BI memprediksi kinerja penjualan eceran akan terkontraksi hingga -37,1%, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga diperkirakan mulai mencatat pertumbuhan positif pada Agustus 2020. Sementara itu, kelompok barang yang lain diprakirakan juga mengalami perbaikan dengan kontraksi yang menurun, kecuali kelompok barang pelengkapan rumah tangga lainnya.

Adapun dari sisi harga, tekanan inflasi pada tiga bulan mendatang atau Oktober 2020 dan Januari 2021, diperkirakan meningkat.

Indikasi peningkatan harga tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 dan 6 bulan mendatang masing-masing sebesar 133,7 dan 157,7, lebih tinggi daripada periode sebelumnya masing-masing sebesar 131,5 dan 156,1.

“Responden memperkirakan kenaikan harga tersebut dipengaruhi gangguan distribusi barang dan jasa seiring dengan masuknya musim hujan,” tutur Onny.

undefined

Ari Arung Purnama