Sepenggal Cerita Mereka yang Rela Menjadi Badut-Badut Jalanan di Banjarmasin

Banjar UPDATE 2 Jul 2020, By Ari Arung Purnama
Sepenggal Cerita Mereka yang Rela Menjadi Badut-Badut Jalanan di Banjarmasin (Source: Ari Arung Purnama)

Menjadi badut-badut jalanan di Banjarmasin bukan hal mudah. Berdiri di trotoar selama berjam-jam hingga mengenakan pakaian yang panas sudah pasti harus dilakoni sehari-hari. Seperti apa cerita mereka bekerja di balik topeng keceriaan itu?

***

Duduk di depan gerai ATM di bilangan Jalan Dahlia, Kelurahan Mawar, Kota Banjarmasin sosok Rahmani (41 tahun) tampak kelelahan saat ditemui tim starbanjar, pada Selasa (30/6/2020) malam tadi.

Kala itu, kostum berupa Pikachu masih melekat di badannya. Tampang lelaki itu tampak letih bekas bekerja sedari sore. Sesekali, Rahmani membakar kreteknya untuk menghilangkan penat sejenak.

Rahmani merupakan satu dari sekian banyak badut jalanan yang belakangan waktu di marak Banjarmasin. Ia melakoni pekerjaan ini karena profesinya sebagai sopir taksi kuning sudah tak zaman lagi.

"Waktu jadi sopir, seringnya nyewa angkot. Murah cuma 25 ribu. Tapi makin kesini, penumpang makin sepi. Terus saya coba jadi badut, harga sewa kostumnya sama dengan harga sewa angkot. Ternyata lebih untung disini, jadi saya lanjutin," Rahmani.

Kendati demikian, penghasilan yang didapatnya dari menjadi badut rupanya cukup menguntungkan. Setara dengan pekerjaannya menjadi supir 5-10 tahun yang lalu. Tetapi, tidak semua yang didapatkan Rahmani berupa uang. Ayah dua anak ini juga menuturkan bahwa ia sering juga mendapatkan makanan, bingkisan atau sembako selama bekerja menjadi badut pinggir jalan.

"Paling banyak itu waktu bulan Ramadhan kemaren, saya dapat bingkisan dari orang-orang yang bersedekah," kenangnya.

Ketika ditanya apakah ada rencana beralih profesi lagi, Rahmani tegas menjawab tidak. Ia rupanya kekeh menjadi badut pinggir jalan.

"Enak soalnya, jam kerjanya tidak terikat dan bisa istirahat semau saya," pungkas Rahmani.

Lain orang, lain cerita. Muhammad Anis, badut yang mengenakan kostum Bugs Bunny di pertigaan lampu merah Jalan Cemara ini mengaku menjalani pekerjaan tersebut untuk jangka pendek. Usahanya sebagai penjual pentol merosot tajam akibat pandemi Covid-19 yang membuatnya beraganti pekerjaan.

"Sebelum pandemi, 5-6 kilogram pentol selalu ludes diborong pelanggan. Waktu pandemi, saya kerja dari jam 8 pagi sampai 12 malam cuma habis 1 Kg. Pendapatan saya merosot 90 persen," tutur pria berusia setengah abad ini.

Mengingat umurnya yang rentan terkena covid-19, lantas apa yang membuat membuat Anis tetap berada diluar saat ini? Jawaban ia sederhana: demi nafkahi anak dan istri.

"Anak saya dirumah ada dua, Umur 22 pengangguran, sama Umur 17 kelas 2 SMA," tutur Anis agak bersemangat ketika berbicara tentang keluarga.

"Kalaupun takut, saya lebih takut ditangkap satpol pp mas. Tadi ada lewat tapi untungnya cuma dapat teguran saya. Saya juga jelasin saya mencari nafkah, jadi mereka mereka mengerti," tandasnya.

undefined

Ari Arung Purnama